PKS NEWS UPDATE

Latest Post

Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

“Warna-Warni Golput”



Golput sebagaimana diketahui adalah kependekan dari golongan putih. Dalam politik arti golput sangat berbeda dengan istilah dalam dunia persilatan, yang menempatkan golput sebagai tokoh utamanya. Sementara dalam politik, golput bisa berarti sebaliknya, yaitu dianggap negatif dan antagonis. Terlepas dari itu semua, istilah golput biasa dimaksudkan untuk menyebut mereka yang tidak memilih pada sebuah pemilihan umum. Fenomena ini memang tidak bisa dianggap remeh, kenyataan di pilkada dan survei-survei terkini menyebutkan jumlah golput menembus angka psikologis melebihi 40 % dari jumlah pemilih. Benar-benar sebuah fenomena yang patut dikaji secara lebih mendalam.

Istilah golput sendiri yang semestinya luas, berangsur-angsur menyempit secara makna dengan mengartikan bahwa golput adalah hanya mereka yang kecewa dengan parpol yang ada. Ibaratnya dalam sidang parlemen ada istilah walk-out, yaitu keluar dari persidangan, menolak ikut terlibat dalam pengambilan keputusan, maka dalam pemilihan umum, golput-lah bentuk walk-outnya. Tetapi menurut penulis, sejatinya permasalahan golput tidak bisa diartikan hanya seputar kecewa atau tidak. Memang harus diakui, yang paling banyak melakukan sounding untuk golput memang mereka yang jelas-jelas kecewa dengan perpolitikan di tanah air kita. Tapi jika kita melihat lebih jauh, golput dalam arti tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu, ternyata bisa disebabkan oleh beragam latar belakang dan motivasi. Karenanya secara sederhana saya ingin mengatakan, bahwa sejatinya golput tidak benar-benar putih yang satu. Mereka terdiri dari warna-warni yang beragam, yang ketika berputar terus membuat warnanya yang satu ; yaitu putih.

Ada berapa latar belakang sekaligus motivasi mengapa seseorang memilih untuk menjadi golput, berikut beberapa diantaranya yang bisa saya tangkap :

1. Golput Ideologis; yaitu mereka yang memandang bahwa memilih dalam pemilu adalah bagian dari demokrasi yang bukan merupakan sistem islam.Karenanya memilih dalam pemilu berarti sebuah kemaksiatan, memperjuangkan sebuah parpol dan berdemokrasi bisa mendekat pada kemusyrikan.

2. Golput Skeptis dan Apatis; yaitu mereka yang peduli bangsa dan tanah air, melek politik, tetapi merasakan kekecewaan yang besar dengan perpolitikan tanah air, elit politik dan parpolnya. Merasa tidak akan ada perubahan dengan parpol dan caleg yang ada saat ini.

3. Golput Teknis Praktis; yaitu mereka yang ingin memilih, dan terdaftar dalam DPT, tetapi secara teknis pencontrengan tidak bisa karena berhalangan dan kesibukan. Bisa karena sakit, rapat, bisnis. atau momentum-momentum lainnya yang beragam.

4. Golput Egois dan Individualis; yaitu mereka yang tidak memilih karena merasa tidak ada manfaat secara langsung baginya. Pemilu seolah merepotkan dan mengganggu kesenangan dalam menjalani hidupnya. Mereka tidak peduli dengan proses pemilu karena cukup enjoy dan senang dengan aktifitas pribadinya masing –masing seperti ; belajar, olahraga, bermain, nge-game, internetan, belanja, dan hobbi lainnya yang beragam.

5. Golput By Design atau By Force: Yaitu mereka yang berkeinginan memilih, tetapi tidak bisa mengikuti pemilihan karena tidak terdaftar dalam DPT.

Nah, jadi sepertinya tidak ahsan menjustifikasi bahwa semua golput adalah mereka yang kecewa dengan perpolitikan di tanah air. Sayangnya belum pernah ada –sepanjang yang saya tahu- survei jumlah golput yang juga menjelaskan lebih lanjut alasan golput mereka. Kepada mereka yang golput dengan beragam warnanya, ada beberapa hal yang bisa kita berbagi dalam semangat menuju kebaikan bersama. Saya kira impian untuk menjadikan Indonesia lebih baik dan mertabat, adalah satu hal yang juga disepakati, bahkan oleh mereka yang golput sekalipun.

Pertama : kepada mereka yang golput secara ideologis, bahwasanya perdebatan dan perbedaan seputar islam, pemilu dan demokrasi adalah 'realitas perbedaan' yang tidak bisa dipungkiri dalam khazanah fikih kontemporer ( fiqh nazilah ) saat ini. Dimana setiap pendapat mempunyai dalilnya, dan juga tokoh-tokohnya ( baca ; ulama mujtahidnya). Yang berbeda juga bukan satu, dua ulama, tetapi banyak ulama bahkan kumpulan ulama, masing-masing dengan hujjahnya. Apalagi perdebatan itu masih berlangsung hingga saat ini. Karenanya sebagai sebuah realitas, bahwa ada perbedaan ijtihad seputar masalah ini. maka sesungguhnya sikap yang ksatria di sini adalah saling menghormati. Adapun merasa paling benar, bahkan mengkafirkan pendapat yang perbeda, sebenarnya bukan sikap ksatria dalam sebuah lapangan ijtihad. Semoga kita masih ingat ungkapan 'ksatria' imam Syafi'i ra : " Pendapatku itu benar, tapi ada kemungkinan salah, dan pendapat orang lain itu salah, tapi ada kemungkinan benar ". Sehingga pada titik ini, saya berharap banyak kita bisa saling menghargai. Dan terus bekerja sama untuk berdakwah dalam hal-hal dan tema-tema yang kita sepakati, dan saya yakin itu sangat banyak. Semoga harapan ini bukan impian.

Kedua : kepada mereka yang skeptis dan apatis. Mari kita saling berintropeksi, apakah pilihan golput akan menjadi yang terbaik bagi negri ini, atau bahkan sebaliknya ? Apakah kekecewaan ini karena diri kita yang tersingkir dari perpolitikan, ataukah karena satu dua oknum yang mengecewakan ? Marilah melihat lebih jauh, menimbang lebih teliti, jika ada satu nama, parpol, yang masih menyisakan sedikit harapan mengapa ragu untuk ikut kembali berpartisipasi. Mari lebih mendekat pada parpol yang ada, barangkali masih ada satu dua yang bisa Anda percayai. Jangan menjauh karena itu justru membuat hati semakin anti pati. Bukankah kita semua percaya sebuah ungkapan : tak kenal maka tak sayang !

Ketiga : kepada mereka yang golput karena alasan teknis dan praktis ! Ingat pemilu hanya lima tahun sekali. Semoga Anda bisa mengatur ulang jadwal dan kesibukan hingga bisa ikut berpartisipasi.

Keempat : kepada mereka yang golput karena tidak peduli, mendahulukan spirit individualis dan egois, maka marilah kita melakukan pendekatan dan penyadaran yang lebih intensif. Ini adalah masalah mental yang tidak bisa diubah semudah membalik telapak tangan. Ada hati-hati yang harus disentuh, ada sapaan yang harus dilakukan, ada dakwah yang harus disampaikan. Untuk menjadikan mereka lebih peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Mengingatkan kembali bagaimana kriteria manusia terbaik versi Rasulullah SAW ; yaitu ketika kita mampu menjadi yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Kelima : kepada mereka yang belum terdaftar dalam DPT, dan ingin berpartisipasi dalam pemilihan umum, bersegaralah untuk mengajukan diri melalui ketua RT setempat, untuk kemudian dilanjutkan ke Panitia Pemilihan Kelurahan, masih ada harapan selagi KTP dan KK anda masih ada ditangan. Untuk aktifitas lima tahun sekali, saya kira sedikit berlelah-lelah menembus birokrasi layak untuk dijalani. Semoga semua dimudahkan, dan Anda mengikuti pemilu dengan penuh optimis dan do'a.

Akhirnya, warna-warni golput sungguh-sungguh menyisakan pekerjaan rumah yang begitu besar bagi kita semua. Kepada semua yang peduli dan optimis untuk menjayakan negri ini, mari kita dekati mereka yang golput, cari tahu alasan dan motivasinya, untuk kemudian kita bisa berbagi wacana yang berbeda. Tidak perlu ada konflik, gontok-gontokan ataupun sekedar bersilat lidah, karena ungkapan kebaikan sejatinya harus dihadirkan dengan cara yang elegan dan dewasa. Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang mampu menahan diri ketika emosi bergemuruh di dalam dada. Wallahu a'lam.

By: Hatta Syamsudin
Follow Twitter @hattasyamsuddin

*indonesiaoptimis.com

Sekilas Sejarah Tuan Guru di Gumi Sasak

Kalau kita kembali ke masa lalu, istilah Tuan Guru bisa ditelusuri pada abad 18 ketika tiga orang alim yang pertama kali memakai istilah Tuan Guru. Yakni Tuan Guru Umar Kelayu, Tuan Abdul Hamid Presak Pagutan, dan Tuang Guru Sekar Bela. Konon ketiga Tuan Guru ini sangat hangat persahabatannya satu dengan yang lain, terutama pada tingkat toleransi tinggi dalam perbedaan pendapat. Ketiga beliau ini memang cukup lama mukim di tanah Hijaz untuk menunaikan ibadah Haji sekaligus menuntut Ilmu.

Kalau kita mengamini pendapat Azyumardi Azra, tanah Suci Mekkah (dan Madinah) pada masa itu memang menjadi pusat keilmuwan karena menjadi tempat berkumpulnya para alim-ulama dari berbagai penjuru dunia. Keberagaman itu dikelola dengan sangat apik oleh penguasa Mekkah dan Madinah sehingga dinamika keilmuwan berkembang demikian maju pada saat itu. Para ulama yang datang dari Nusantara pada saat itu disebut sebagai ashab al-jawiyin atau orang-orang Jawah. Sebutan Jawah merupakan pemberian seorang peneliti Barat bernama Ludivico Vanathema pada tahun 1502 untuk ulama-ulama mumpuni dari seantero Nusantara.

Ikatan-ikatan keguruan ini tentu saja melahirkan imajinasi kebangsaan yang lebih tua dan lebih solid daripada yang dibayangkan oleh tokoh pergerakan nasional satu abad setelahnya. Ashab al-Jawiyin sangat menjunjung tinggi tali sosial di antara mereka. Oleh karena ikatan keilmuwan yang demikian kuat, konon Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari menolak (mengharamkan) bentuk organisasi apapun karena beliau takut akan memecah belah ikatan kebangsaan. Dan ulama-ulama ”jawah” pada saat itu bukanlah penerima pasif ilmu-ilmu Islam Arab seperti banyak didugakan orang, justru para ulama-ulama Jawah menjadi produsen pengetahuan yang sangat dihormati, dan beliau-beliau membawa tipologi keislaman yang kuat sekali bentuknya.

Sebelum tiga Tuan Guru pertama tersebut, konon ada banyak sebutan untuk orang-orang alim di gumi Sasak. Seperti istilah Lebe (modin, mbah kaum dalam konteks Jawa). Dan besar sekali kemungkinan bahwa banyak sekali alim ulama yang menetap di Lombok sebelum masa Tiga Tuan Guru Pertama Sasak tersebut. Ulama ”ampuh” bernama Syeikh Abdul Muhyi Pemijahan (Jawa Barat) misalnya, lahir di Lombok pada paruh awal abad 17. Ayahnya bernama Lebe Wireatmakusuma, seorang bangsawan keturunan Pajajaran (memang perlu diteliti lebih jauh pengaruh Pajajaran dalam konteks Sasak). Setelah berumur 19 tahun beliau meninggalkan gumi Sasak menuju Ampel (surabaya) untuk memperdalam pengetahuan keagaamaan beliau. Syeikh Abdul Muhyi dikenal sebagai Wali kesepuluh Tanah Jawa karena tingkat kealiman, terutama pencapaian keruhanian beliau. Diperkirakan beliau adalah kakak seperguruan dari ulama Legendaris dari Makassar, yakni Syeikh Yusuf Khalwati al-Makassari, dan sama-sama pengembang ajaran Martabat Tujuh dari Tarekat Syatariah. Seperti diketahui bahwa martabat tujuh bukan saja doktrin tasawuf saat itu tetapi sudah dijadikan dasar-dasar untuk melahirkan sistem politik yang sangat demokratis (bandingkan misalnya dengan penelitian Tony Rudiansyah mengenai Buton).

Soal sebutan atau istilah Tuan Guru, apakah ini pengaruh dari Banjarmasin, Sumatera atau dari Makassar? Di tanah Banjar istilah Tuan Guru memang dikenal luas. Kemungkinan pengaruhnya sampai ke Lombok, terbukti dengan diajarkannnya sejumlah karya ulama Banjar, seperti Bidayatul Muthadin karya Syeikh Arsyad al-Banjari dalam bidang Fikih dan Darrun Nafis karya Syeikh Nafis al-Banjari dalam bidang Tasawuf (Kitab ini juga menguraikan martabat tujuh).

Sebab di tanah Makassar dan Bugis, istilah Tuang Guru memiliki konotasi negatif, yakni dikaitkan dengan ulama-ulama yang modernis, tidak tradisionalis. Para pembaharu yang terlalu banyak kutipan ayat-ayat Suci Al-Qur’an dan Hadist daripada uraian-uraiannya sendiri terhadap kedua sumber keilmuwan Islam tersebut.

Kalau dilihat ukuran waktunya, maka Tiga Tuan Guru Pertama di Bumi Sasak tersebut sezaman dengan masa Syaikhona Khalil Bangkalan, dan menurut sebagian orang Sasak bahwa Syaikhona Kholil memiliki hubungan dekat dengan Tiga Tuan Guru Pertama di Bumi Sasak, terutama dengan Tuan Guru Umar Kelayu (tidak sedikit yang mengatakan bahwa kedua beliau ini memiliki hubungan keluarga yang nantinya melahirkan seorang Tuan Guru legendaris bernama Tuan Gura Akhmad Tretetet: seorang Tuan Guru yang dikenal karena karomah-karomahnya).

Kebetulan ketiga Tuan Guru Pertama di Gumi Sasak karena lamanya berada di Tanah Suci menikahi sejumlah keturunan Kiai-Kiai Jawa dan Sunda yang ternama. Tuan Guru Umar Kelayu menikah dengan putri Kiai Jawa dari Banyuwangi yang diduga kerabat dekat Syaikhona Kholil Bangkalan. Tuan Guru Abdul Hamid menikahi seorang putri Kiai dari Banten. Demikian juga denganTuan Guru Sekarbela.

Bersikap Mumtaz Menyikapi Darin Mumtazah



Beberapa hari ini, inbox FB saya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan seputar skandal LHI dengan seorang siswi SMK, Darin Mumtazah. TV One pagi tadi menyiarkan skandal ini secara berulang-ulang. Namun sumbernya, sekali lagi hanya Detik.com. TV nasional ternyata mengandalkan beritanya dari sebuah portal.

Seperti tulisan-tulisan sebelumnya, saya semakin yakin kasus LHI adalah spy trap yang dipasang. Sekali lagi, targetnya bukan memvonis bersalah LHI. Tapi target besarnya adalah: menegasikan apapun yang berbau Islam, terutama Islam Pergerakan dengan dua isu sentral: Gratifikasi Seks dan Terorisme.

Hal pertama, untuk gerakan Islam yang seatle di parlemen dengan jumlah dukungan cukup besar. PKS adalah partai Islam terbesar, mengalahkan PPP dan diprediksi PKS masuk 3 besar di Pemilu 2014. Terlebih sikap menteri-menteri PKS yang teguh memperjuangkan independensi pangan. Bukankah Mentan menolak kuota impor sapi? Yang sekarang sang Mentan dipinggirkan perannya, ketika 3000 ton daging sapi dibuka kembali?

Hal kedua, terorisme digunakan untuk menjebak aktivis gerakan Islam non parlemen yang bersuara lantang dan NYATA memperjuangkan pemberlakuan syariat.

Alaa kulli haal, menjawab pertanyaan seputar sikap kita menghadapi isu Darin Mumtazah. Maka tulisan Ustadz Abdullah Haidir Riyadh cukup membantu kita:
Ketika saudara kita ter tuduh..

1. Membela kehormatan org yg belum tentu bersalah tentu lebih baik ketimbang mencelanya. Apalagi jika selama ini dikenal sebagai orang baik…

2. Mencela dan memojokkan, baik dengan bahasa lugas atau sindiran, terhadap saudara yg sedang dilanda tuduhan yang belum terbukti adalah indikasi ‘sakitnya hati’

3. Mana yang lebih dekat dengan adab Islam, membela penuduh yang belum dikenal kepribadiannya atau membela ter tuduh yang belum terbukti kesalahannya tapi sudah dikenal kebaikannya?

4. Pesan Nabi Jelas: Penuduh harus mengajukan bukti, ter tuduh cukup bersumpah jika mengingkari… (HR. Baihaqi)

5. Sebab kalau semua tuduhan langsung diterima, orang akan ramai-ramai melakukan tuduhan terhadap harta dan darah suatu kaum… (HR. Baihaqi)

6. Para ulama mengatakan: Keliru menghukumi bahwa seseorang tak bersalah, lebih baik dibanding keliru menghukumi bahwa seseorang bersalah…

7. Aneh aja.. jika mengaku aktivis Islam dan sering mengusung tema persatuan, namun ketika sesama aktivis diserbu berbagai tuduhan yang belum terbukti..

8. Alih2 membela, atau berempati dan mendoakan kebaikan.. Yang ada justru ikut2an memojokkan dengan statement yang kadang lebih menyakitkan dari masyarakat awam…

9. Baik dari adab Islam, atau tinjauan moral, sama sekali tidak mengindikasikan­ ukhuwah yang selama ini menjadi salah satu yang diusungnya..

10. Ukhuwah bukan sekedar jadi judul buku atau seminar…

11. Benarlah ungkapan hikmah yg sering kita dengar… teman yang sejati dapat diketahui saat kita sedang susah…

12. Namun kita tidak perlu mengemis2 pertolongan dengan orang semacam itu. Sebab, kebenaran itu, dg sendirinya akan mendatangkan pendukung….

13. Bergembira apabila mendengar ‘kesalahan’ saudara sebagai sebuah amunisi… lebih berbahaya dibanding kesalahan saudaranya itu sendiri..

14. Sebab yang pertama akan semakin larut dalam maksiat kebenciannya, dan yang kedua akan semakin sadar dg kesalahannya dan lebih besar harapan
================

Saya sangat salut dengan sikap umat Islam, beberapa dari mereka adalah jamaah pengajian yang bukan kader PKS bukan pula simpatisan. Mereka mampu bersikap lebih bijaksana dalam memilih kata-kata dan menyikapi keadaan. Dibandingkan dengan para aktivis dakwah yang katanya mengusung syariah!



Nandang Burhanudin

Prahara PKS sampai ke Mana? | Sujiwo Tejo Bicara


Nah, itu adalah judul ILC malam tadi. Dari sisi judul saja paling tidak, “ILC” sendiri pun tidak tahu kemana sebenarnya arah kasus LHI.

Jika arah kasus itu tujuannya adalah PKS, PKS sama sekali tidak terlibat dalam masalah impor daging. Jika arah kasusnya adalah LHI, maka makin bingung lagi kita memikirkannya. Siapa itu LHI sekarang? pejabat publik bukan, pemimpin masyarakat juga bukan. Pun dia tidak akan membawa nyanyian-nyanyian yang akan melibatkan petinggi PKS lainnya. Lantas apa sebenarnya yang terjadi? Para pakar hukum yang menyampaikan pendapat pun dengan bahasa yang mudah dimengerti, mengisyaratkan kasus daging ini sudah selesai, kecuali jika memang KPK memiliki banyak logistik yang memang hanya KPK saja yang tahu. Aneh.

Bahkan yang bukan pakar hukum pun, seperti Sujiwo Tejo mengomentari para pakar hukum itu dengan sindirannya yang khas, kalau memang ini kasus hukum, ya hukum saja yang diangkat, jangan membawa bawa masalah wanita. Pandangan yang mewakili orang awam. Permasalahan wanita lebih menjadi intens ketimbang masalah kasusnya sendiri. Mungkin semuanya sepakat, ketika nama-nama wanita itu muncul, naluri investigasi kita lansung mencari informasi, siapa dia? mengapa dia? dimana dia? kapan dia? kenapa dia? dan lain sebagainya. Pun, investigasi yang kita lakukan adalah berdasarkan info-info sepotong dari media web. Jika pertanyaan itu terjawab, maka kita mencoba merangkaikan info-info dari media web itu sehingga menjadi sebuah kesimpulan. Oh, ternyata dia itu ini. Pendek akal.

Mengapa kita tidak mencoba sedikit berkonspirasi dan berimajinas serta berparanoid sedikit. Otak kita mampu untuk itu. Kemampuan otak kita bukan hanya merangkai info-info dari media web yang berisikan 2 paragraf tulisan. Otak mampu melakukan lebih dari itu.

Coba saja kita berandai. Sesuai misinya, PKS menargetkan 3 besar. Apa yang akan terjadi jika misi itu tercapai? Apakah PKS akan dominan di Legislatif dan Eksekutif? Siapa yang merasa paling terancam dengan ke dominan tersebut? Bagaimana hasil survey terhadap saat sebelum dan sesudah LHI di jadikan tersangka? Jika mau lebih jauh, bagaimana Freeport, Exxon Mobil, Chevron, dll jika partai ini dominan? akankah terjadi nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan itu? Lihat saja, ketika keran impor daging di sempitkan sedikit, banyak pihak-pihak berpaham neo liberal mengernyitkan kening. Termasuk manusia tak tersentuh, Budiono. Nah, jika memang iklim yang dibawa partai ini akan membahayakan dunia ke liberal an, secara cerdas apa yang akan kita lakukan? Tekel. Masalah kartu kuning atau merah, belakangan.

Tetapi ini jika mencoba untuk berimajinasi secara liar saja. Semuanya, “Kita tunggu di Pengadilan”.


Hana | Kompasioner
http://politik.kompasiana.com/2013/05/22/prahara-pks-sampai-ke-mana-558231.html

15Th Reformasi: Tirani Orde Baru itu Masih Hidup dan Berevolusi






Ahmad Farid

Surabaya



15 Tahun Reformasi:
Tirani Orde Baru itu Masih Hidup, Berkembang biak dan Berevolusi


21 Mei, menjadi peringatan tahunan akan usia reformasi negeri ini. Setiap orang pasti punya opininya terkait 15 Tahun Reformasi, mayoritas membandingkan antara kondisi sebelum reformasi dan setelahnya.



Dalam rangka mengukur dan mengevaluasi keberhasilan reformasi. Ada kurang lebih 6 hal kala itu yang menjadi tuntutan reformasi : Adili Soeharto, Tegakkan Supremasi Hukum, Cabut Dwifungsi ABRI, Amandemen UUD 1945, Otonomi seluas-luasnya, Budayakan demokrasi yang sehat dan egaliter serta Hapus budaya KKN kroni.

Objek yang disasar yang paling bertanggungjawab dalam reformasi mau tak mau adalah pemerintah. Kalau kita membaca Koran KOMPAS edisi 20 Mei 2013, kita sepakat bahwa reformasi belum tuntas, bahkan dari data yang ditampilkan soal indeks dari tuntutan reformasi, pemerintah terkesan gagal menunaikan amanat reformasi. Kalau terkesan gagal, lantas apakah reformasi harus dilanjutkan, atau kembali ke jaman orde baru. Sebab mulai muncul kesan jaman orde barunya Pak Harto lebih baik dalam memuaskan dan memenuhi hajat rakyat daripada hari ini. Muncul di berbagai tempat gambar Pak Harto melembaikan tangan sambil tersenyum dengan ada tulisan "Piye Kabare Nak? Enak Jamanku biyen tho?".

Dalam pandangan saya, ada sebab mengapa hingga 15 Tahun, reformasi masih belum tuntas. Reformasi hanya terkesan menjadi momen yang sporadis dan tidak berkelanjutan. Mahasiswa yang dulu berduyun-duyun turun ke jalan hanya berhasil meruntuhkan tembok pertama dari tirani bernama orde baru, namun hakikatnya masih ada berlapis-lapis tembok yang belum diruntuhkan dan masih bertahan hingga hari ini. Reformasi dahulu dan  peringatannya tiap tahun hanya menjadi formalitas untuk meluapkan kekecewaan yang terakumulasi kepada pemerintah, sebagaimana demokrasi yang merupakan inti tuntutan reformasi yang juga hanya menjadi formalitas belaka, tidak substansial kata Koran KOMPAS.

Bahkan tirani yang dulu bernama orde baru telah berevolusi semakin canggih seiring usia reformasi menjadi lebih canggih dalam mengakali rakyat. Media dapat menjadi alat politik, Korupsi boleh asal tak ketahuan, Kasus Korupsi yang membahayakan eksistensi penguasa disimpan rapat-rapat agar tak menyeruak dan menjadi trending topic, Sementara lawan politik dihabisi dengan berbagai cara agar jadi musuh bersama dan kocar-kacir, Kebebasan berpolitik ada namun ada alat untuk menyikut lawan politik, Tak bisa berkuasa lama oligarki pun jadi, Bunuh orang seenaknya dengan alasan menjaga stabilitas dan keamanan, dan berbagai cara canggih lain yang bisa mengelabui rakyat bahwa semua sudah berubah menjadi lebih demokratis.

Dalam 15 Tahun Reformasi ini, yang paling perlu kita lakukan adalah jeli mencari siapa "Tirani Baru" hari ini, yang telah melanggengkan model kekuasaan orde baru dengan evolusinya yang lebih canggih, agar kita tak semakin terpedaya. Jangan-jangan tirani itu masih hidup, berevolusi, menggeliat dan berkembang-biak tanpa kita sadari. Menyebar di berbagai tempat dengan bungkus barunya, ia bisa jadi hidup di media yang dikuasai politisi, bisa jadi hidup dalam keluarga kepala daerah yang kemudian meneruskan menjadi pemimpin daerah, bisa jadi ia masih hidup dalam polisi dan militer yang masih represif, bisa jadi ia hidup di partai politik apalagi partai politik pra reformasi, bisa jadi ia hidup di intitusi penegak hukum yang masih tebang pilih atau malah jadi alat penguasa untuk mengkocar-kacirkan lawan politiknya, dan seterusnya.

Setelah kita tahu siapa Tirani itu, yang perlu kita lakukan adalah melawannya. Tapi kita harus bersiap menanggung segala konsekuensinya, karena perjuangan melawan tirani kali ini lebih sulit dan berat dari turun ke jalan dan menduduki Senayan. Kenapa? karena banyak yang belum sadar bahwa mereka sedang terperdayai dan mengira kondisi baik-baik saja, justru kita yang dikira melawan arus dan berbuat onar, sebab ingat! cara tirani yang sekarang lebih canggih. Sembari melawannya, mungkin kita bisa sadarkan mereka yang masih terperdaya dengan membangunkannya dengan keistiqomahan dan kesabaran kita. Dan jangan sampai perjuangan melawan Tirani ini kita hanya mampu meruntuhkan tembok pertama, apalagi hanya mampu merontokkan cat temboknya atau malah tak meruntuhkan apa-apa. Perjuangan ini sekali lagi, butuh kesabaran dan keistiqomahan, sebab kita tak tahu ada berapa tembok tirani lagi yang harus kita runtuhkan, ada berapa banyak tirani yang berevolusi lagi yang harus kita bunuh hingga tak ada lagi Tirani dan fitnah di muka bumi.

Dalam Perenungan 15 Tahun Reformasi



Selasa, 21 Mei 2013
Penulis: @AhmadJQF on twitter
*pkspiyungan.org

PKS TV

BUKU TAMU

POPULAR POST

 
Support : DPD PKS Lotim | DPW PKS NTB
Copyright © 2011. DESAIN TEMPLATE WEB DPW PKS NTB - All Rights Reserved
Template Created by Mas TemplateRedesign by Tim Media PKS Lotim
Proudly powered by Blogger